Inilah Beda Tilawah dengan Ruqyah

Sahabat Ummi, terkadang bagi orang awam masih ada yang menyamakan bahwa ruqyah sama saja dengan tilawah qur’an. Padahal sebenarnya sangat berbeda. Apakah Sahabat Ummi juga sulit membedakannya? Yuk kita cari tau apakah tilawah qur’an dan ruqyah itu sama?

Tilawah Qur’an adalah pembacaan ayat Al Qur’an dengan baik dan indah. Istilah tilawah ini cenderung ditunjukkan kepada ayat-ayat Al Qur’an karena memiliki makna mempercayai dan mengikuti apa yang dibaca, di mana hal ini dapat diaplikasikan kepada Al Qur’an sebagai kitab suci.

Dalam bahasa Arab, kata tilawah ini memiliki makna lebih dalam. Ada tilawah dari segi pelafalan dan segi makna. Dari segil pelafalan, tilawah berarti kegiatan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah dan aturan yang ada. Sedangkan tilawah segi makna berarti mengikuti atau taat pada ayat-ayat yang telah dibaca.  Setelah dibaca dengan baik dan benar, kemudian dipahami maknanya dengan baik dan ditaati.

Bagaimana dengan pengertian Ruqyah?

Ruqyah menurut islam adalah doa doa dan bacaan bacaan ayat al Qur’an yang mengandung permintaan pertolongan kepada Allah untuk mencegah bala dan juga segala penyakit.

Dan perlu sahabat Ummi ketahui kalau ternyata ruqyah itu dibagi menjadi dua golongan. Golongan ruqyah yang pertama adalah ruqyah syar’iyah yang berarti dalam ruqyah ini melakukan pengobatan dengan cara membacakan doa-doa dari bacaan Al-Qur’an, tak cuma didoakan saja melainkan juga berdzikir.

Sedangkan Ruqyah yang menjadi golongan kedua adalah ruqyah Syirkiyah. Ruqyah yang dimaksud dalam hal ini adalah ruqyah yang dilakukan sebagian orang dengan cara tidak membacakan doa dari bacaan Al-Qur’an. Biasanya hal seperti ini bisa dibilang praktek dukun, dan yang mereka baca adalah jampi-jampi atau mantra. Ruqyah semacam ini dilarang dalam syari’ah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya mantra-mantra, jimat, dan guna-guna adalah syirik.” (HR.Abu Dawud dan Ahmad).

Tilawah dan ruqyah syar’iyah sekalipun sama-sama membaca qur’an, berbeda di niatnya.

Jadi, sekarang sudah lebih tau kan perbedaannya. Semoga artikel ini bermanfaat. (Marthina)

Benarkah Allah Tidak Menerima Sedekah dari Harta Haram?

Menyedekahkan sebagian hartanya adalah sebuah perbuatan baik. Terlebih di bulan Ramadhan ini. Semua berlomba-lomba bersedekah untuk menabur benih kebaikan. Namun bagaimana jika harta yang disedekahkan adalah harta haram? Apakah harta akan menjadi halal? Jawabannya adalah tentu tidak. Hal tersebut diharamkan apapun alasannya.

Meskipun niat tulus untuk membantu, tapi Allah tidak menerima sedekah jika berasal dari yang haram, karena Dia hanyalah menerima yang thoyyib yaitu baik dan halal.

Mungkin kita pernah menyaksikan sendiri pencuri yang berhasil mencuri uang dan uang tersebut disedekahkan, atau uang koruptor yang dipakai untuk bersedekah untuk meringankan bebannya.

Kita melihat hal tersebut dari luar tampak hebat bagai pahlawan. Karena membantu oranag lain yang dalam kesusahan. Namun, hal ini tidak diperbolehkan dalam Islam. Allah SWT tidak menerima sedekah tersebut. Sedekah ibarat air yang dapat membersihkan harta. Namun sedekah dengan harta haram, layaknya urine, yang bukan membersihkan, justru membuat harta semakin kotor. 

Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wassalaam bersabda yang artinya : “Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)” (HR. Muslim no. 224). 

Hal ini juga dijelas dalam Hadist Riwayat Muslim berikut ini yang artinya, 
“Hai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik dan tak hendak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang beriman apa yang diperintahkan kepada para Rasul, maka firman-Nya, ‘Hai para Rasul, makanlah dari hasil yang baik dan beramal sholehlah! Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang engkau lakukan!’ Dan firman-Nya lagi, ‘Hai orang-orang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami karuniakan kepadamu!’ Lalu disebutkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang seorang laki-laki yang lama berkelana, dengan rambutnya yang kusut kusam dan pakaian yang berdebu, menadahkan tangannya ke langit, seraya berkata ‘Ya Tuhanku, ya Tuhanku! Padahal makanannya haram, pakaiannya haram, minumannya haram, dan dibesarkan dengan yang haram, maka bagaimana doanya dapat dikabulkan Tuhan.” (HR. Muslim) , Naudzubillahiminzalik.

Semoga kita senantiasa memberikan makan dari penghasilan halal untuk keluarga, dan menyedekahkan harta yang halal pula. Aamiin. (Marthina)

Inilah 5 Keutamaan Shalat Sunah

Shalat sunnah merupakan amalan yang harus rutin kita laksanakan dan kita jaga. Salah satu keutamaannya yaitu dapat menutupi kekurang shalat fardhu kita. Sebagaimana kita tahu, bahwa tidak ada yang yakin shalat fardhu yang kita lakukan bisa serratus persen sempurna. Maka, dengan shalat sunah, dapat menutupi kekurangan tersebut.

Nah, apakah keutaman lain shalat Sunnah?

Pertama, Shalat Sunnah dapat menutupi kekurangan Shalat fardhu. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” (HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426 dan Ahmad 2: 425. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kedua, Dihapuskan dosa dan ditinggikan derajatnya. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat). Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu.”  (HR. Muslim, No. 488)

Ketiga, Akan dekat dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

“Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)‘” (HR. Muslim, no. 489).

Keempat, Shalat adalah sebaik-baiknya amalan. Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Beristiqamahlah kalian dan sekali-kali kalian tidak dapat istiqomah dengan sempurna. Ketahuilah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat. Tidak ada yang menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.” (HR. Ibnu Majah no. 277 dan Ahmad 5: 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kelima, Shalat Sunnah akan menghasilkan keberkahan. Dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika salah seorang di antara kalian telah menunaikan shalat di masjidnya, maka hendaklah ia memberi jatah shalat bagi rumahnya. Karena sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan dalam rumahnya melalui shalatnya.” (HR. Muslim)

Demikianlah, semoga memotivasi untuk memperbanyak shalat sunah. (Marthina)

Wanita Haid Boleh Masuk Masjid dengan 2 Syarat Ini

Sahabat Ummi, pasti sering mengalami kegamangan ketika sedang haid namun ternyata ada acara pengajian di masjid. Sedangkan di sisi lain terdapat pandangan bahwa tidak diperbolehkan masuk ke masjid dalam keadaan haid. Lantas bagaimana yang benarnya?

Kebanyakan ulama melarang orang yang haid untuk berdiam lama di masjid. Namun dari pendapat ini adalah Ibnu Hazm dan Daud Az-Zahiri masih menganggap boleh. Di antara dalil yang dijadikan dasar dari jumhur ulama adalah surat An-Nisa’ ayat 43.

Allah Ta’ala berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisaa’: 43)

Syaikh Khalid Al-Mushlih hafizahullah ditanya, “Apakah boleh wanita haid menghadiri majelis Al Qur’an (di masjid)?”

Jawab beliau, “Wanita haidh boleh saja masuk masjid jika ada hajat, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam kitab shahih (yaitu Shahih Muslim) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata kepada ‘Aisyah, “Berikan padaku sajadah kecil di masjid.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Saya sedang haid.” Lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu itu bukan karena sebabmu.”

Jadi, dengan ini menunjukkan bahwa sebenarnya boleh saja wanita yang haid masuk ke dalam masjid dengan syarat:

1.      Memiliki Hajat

2.      Tidak sampai mengotori Masjid.

Nah itu dia dua syarat yang harus dipenuhi oleh wanita yang haid untuk masuk ke dalam masjid. Semoga ulasan ini bermanfaat. (Marthina)

Ingin Puasa Syawal? Wanita Perlu Perhatikan Hal Ini

Siapa sih yang tidak ingin pahala kebaikan amalan puasa setahun penuh? Apalagi jika 365 hari dalam setahun bisa diringkas menjadi 35-36 hari saja yakni di bulan Ramadhan dan 6 hari di bulan Syawal.

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Akan tetapi untuk para wanita, perhatikan dulu hal berikut ini sebelum menjalankan puasa Syawal:

1. Pastikan puasa qadha sudah tergantikan

Utamakan mengganti puasa yang ditinggalkan akibat berhalangan haid ketika Ramadhan terlebih dahulu sebelum melakukan puasa Syawal. Karena puasa qadha wajib hukumnya.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

2. Meminta izin suami sebelum berpuasa

“Tidaklah halal bagi seorang wanita untuk berpuasa (sunah) sedangkan suaminya ada (tidak bepergian) kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Melayani suami dan kebutuhan biologisnya bernilai lebih utama dibandingkan berpuasa sunah. Jadi pastikan sudah mendapat izin suami sebelum berpuasa Syawal.

3. Boleh tidak berurutan

Puasa sunah Syawal memang baik sekali jika dilakukan berurutan, langsung 6 hari berturut-turut, akan tetapi tidak mengapa jika dikerjakan tidak berurutan.

Demikianlah 3 hal yang perlu dipastikan sebelum seorang wanita berpuasa Syawal. Semoga bermanfaat.