4 Kesalahan Bayangan Perempuan tentang Pernikahan

Memang tidak semua perempuan membayangkan hal-hal ini, tapi ada sebagian yang berpikirnya seperti ini sehingga perlu diluruskan. Banyak rumah tangga karam karena realita tidak sebaik ekspektasi yang sering dibayangkan.

1. Menikah itu enak, ada yang nafkahin

Faktanya, ada lho laki-laki yang tidak paham kewajibannya menafkahi istri… sekalipun ngakunya orang pengajian. Bisa jadi karena memang punya sifat pelit, sifat iri dengki terhadap penghasilan istri, atau memang murni bodoh ilmu agama. Atau… satu lagi: kena musibah kehilangan pekerjaan.

So, ketika ta’aruf… tanyakan benar-benar kesediaan si calon dalam menafkahi calon keluarganya. Jangan mau kalau belum apa-apa calon suami sudah menyuruhmu tetap bekerja setelah menikah untuk memenuhi kebutuhan kalian berdua, untuk cicil rumah & mobil, itu sih pertanda dia mau lepas tangan urusan nafkah.

Sekalipun gajimu lebih besar dari suami misalnya, tetap saja suami bertanggungjawab memberi istri dan anaknya makan, pakaian, serta tempat tinggal.

2. Ada tempat bersandar dan tempat curhat

Siapa bilang? Tidak semua laki-laki enak dijadikan tempat curhat. Ada yang malah akan menyalahkanmu karena terlalu baperan, atau ada yang malah tidur ketika kamu lagi emosional menceritakan kisah perseteruan hari ini dengan tetangga.

So, bersyukurlah kalau dapat suami yang sabar mendengar curhatan. Tapi berhentilah membayangkan hal muluk dalam pernikahan.

Yaa telpon call center aja kalau perlu curhat 24jam. Suami juga kan manusia yang bisa lelah dan bosan dicurhati terus.

3. Ada imam shalat Tahajud dan imam hidup yang bisa ngingetin kalau salah

Belum tentu lho… malah bisa jadi kamu lah yang bangunin suami untuk shalat, dan kamu lah yang musti ngingetin suami kalau ia salah. Nikah bukan melulu berarti suami pasti benar dan zero kesalahan yah.

Sekalipun suamimu seorang ustadz, ia adalah manusia biasa. Ustadz pun bisa sombong dan melakukan kesalahan. Jadi, jangan santai “Ah, nanti kalau udah nikah aku bakalan dibenerin sama suami ini…”

Tetap timba ilmu agama yang cukup sejak sebelum nikah, jangan bersandar pada calon suami dan bayangan semu tentang pernikahan bahwa kamu akan mendapat suami yang sempurna ilmu agamanya. Sekali lagi: Belum tentu!

4. Nikmat pacaran setelah nikah

Lagi-lagi belum tentu… apalagi kalau ngebayanginnya ada adegan romantis macam Drama Korea yang bikin klepek klepek. Ya ampun, itu semua bisa terjadi atau tidak… tergantung karakter suami dan tentu saja kondisi finansialnya.

Makanya bayanginnya sederhana saja, tidak perlu membayangkan jalan bergandengan tangan ke luar negeri, ke depan Ka’bah. Nanti malah kecewa kalau tidak kesampaian dalam waktu dekat.

Bayangkan hal sederhana saja, sesederhana mungkin yang bisa dibayangkan. Jadi ketika suami memberi hal sederhana, kita bisa lebih bersyukur dan tidak banyak menuntut.

Taat Pada Suami Menurut Islam, Inilah 3 Keutamaannya

Sahabat Ummi, zaman sekarang banyak istri yang enggan menaati suaminya. Alasannya bisa jadi karena merasa penghasilan yang diperoleh sang istri lebih besar, atau… karena istri memiliki karakter lebih dominan.

“Uang untuk rumah tangga dari penghasilanku sendiri kok, suamiku gajinya kecil… buat apa aku tunduk sama suami yang seperti itu.”

Apapun alasannya, sesungguhnya istri shalihah akan tetap mematuhi perintah suaminya terutama dalam kebaikan dan bukan dalam kemaksiatan, mengapa demikian? Berikut ini beberapa alasan logis mengapa istri perlu menaati suaminya:

1. Surga dan neraka seorang istri ada pada suaminya

Jika memang Anda sebagai istri tidak bisa menghargai suami, mengapa dulu mau dinikahi olehnya? Jika sudah menerima nikahnya, maka terima pula segala konsekuensinya, yakni mematuhi suami sebagai pemimpin diri kita.

Tahukah bahwa seorang istri yang meninggal dalam keadaan mendapat ridho suami, maka tempat di surga sudah dipastikan ada untuknya. Jadi, mengapa kita melawan suami dan tidak menaati perintahnya jika itu dalam hal kebaikan.

2. Beratnya tanggungjawab suami di hadapan Allah

Ketika suami memerintahkan sesuatu, patuhilah… karena tanggungjawab suami terhadap istrinya amat berat, di dunia maupun akhirat.

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya.” [An-Nisaa’ : 34]

3. Besarnya hak suami untuk ditaati oleh istri

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” (Al Hadits)

Hadits di atas menunjukkan betapa besar keutamaan seorang suami atas istrinya, bahkan jika diperbolehkan ada makhluk yang layak disujudi, maka itu adalah seorang istri yang layak sujud pada suaminya.

Kita mungkin tidak menyadari betapa besar hak suami ini terhadap istri, apalagi jika suami yang menikahi kita saat ini bukanlah seorang pria shalih, bukanlah seorang pria yang bertanggungjawab dan gentle. Namun percayalah Sahabat Ummi, ketaatan kita pada suami bukanlah disebabkan suami kita memenuhi kualifikasi untuk ditaati. Melainkan ketaatan kita pada suami merupakan bukti ketaatan kita pada Allah dan RasulNya. Bukankah Asiyah istri Fir’aun memiliki suami yang buruk perangainya namun Asiyah tetap layak mendapat rumah di surga Allah disebabkan ketaatannya pada Allah? 

Semoga artikel taaat pada suami menurut islam ini bisa memotivasi untuk menjadi istri shalihah yang taat pada suami.

Waspadai 5 Tanda Pernikahan akan Segera Berakhir

Tidak ada yang mengetahui kapan persisnya kedatangan ajal seseorang, demikian juga tidak ada yang tahu ajal setiap benda dan segala sesuatu, namun faktanya… segala yang ada di dunia ini pasti akan rusak atau binasa menemui ajalnya. Dan biasanya akan ada tanda-tanda menuju kehancuran tersebut. Demikian juga sebuah pernikahan, memiliki tanda-tanda tertentu ketika mendekati akhirnya.

Setiap pasutri perlu mewaspadai apabila ada tanda-tanda berikut ini terlihat dalam rumah tangga mereka:

1. Tidak ada yang bersedia mengalah atau tidak lagi ada kompromi

Sebagaimana yang Rasulullah katakan,  “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad)

Sangat wajar jika pasangan suami istri berbeda pendapat tentang sesuatu, akan tetapi jika kedua belah pihak bisa mengalahkan ego masing-masing dan sejenak bersabar serta mengutamakan kompromi untuk mencari jalan keluar, maka in syaa Allah rumah tangga akan bisa bertahan.

Ketika tidak ada lagi pihak yang bersedia untuk mengalah dan berkompromi dengan kepala dingin, maka saat itulah tanda-tanda berakhirnya sebuah hubungan mulai jelas terlihat.

2. Tidak memiliki kesamaan visi misi 

Visi misi memiliki peran penting untuk menyatukan pasutri, ketika visi misi tidak lagi sejalan, maka sangat mungkin hubungan akan merenggang bahkan hancur dengan perpisahan.

Sebagai contoh, sebuah perahu yang dinahkodai 2 orang, ketika salah satu ingin pergi ke arah Barat, sedangkan satu lagi ingin pergi ke arah Timur, maka… sangat mungkin cepat atau lambat kedua nahkoda ini akan memilih untuk berpisah demi dapat mencapai tujuan masing-masing.

Oleh sebab itu, sebelum menikah… pastikan calon pasutri telah menyatukan visi misi atau setidaknya memiliki visi misi yang selaras.

3. Tidak adanya toleransi

Jangankan pernikahan, dalam hidup bertetangga pun kita memerlukan sikap toleransi. Tanpa toleransi… maka bisa dipastikan akan terjadi banyak keributan dan pertikaian.

Misalnya, jika kita berharap tetangga yang hobi memelihara burung segera menghentikan hobinya karena suara burungnya berisik dan kotorannya bau, bisa dipastikan akan sering terjadi keributan dengan tetangga bukan?

Demikian juga antar suami istri. Jika sudah tidak ada toleransi, yakni sifat pembiaran… pemakluman, maka pertikaian akan meruncing.

“Kamu kok hobi nonton Drama Korea terus…”

“Lha… Mas sendiri hobi main game, anak dan istri ditelantarkan.”

Selama masih bisa bertoleransi, pasutri akan bisa membina hubungan mereka lebih langgeng. 

“Mas boleh main game, tapi 1 jam paling lama yaa…”

4. Salah satu pihak berbuat kedurhakaan pada Allah

Ketika salah satu pihak telah durhaka pada Allah, bisa jadi dengan melakukan zina, meninggalkan shalat, melakukan tindak asusila, dan lainnya, maka hal ini bisa menjadi alasan besar untuk memutuskan pernikahan. 

Oleh sebab itu, pelihara diri dari kesalahan dan maksiat, agar rumah tangga bisa bertahan lama atas dasar ridho Allah.

5. Dominasi pihak ketiga

Pasutri semestinya sadar bahwa segala keputusan ada pada mereka berdua, bukan orang lain, sekalipun pihak lain itu adalah mertua, ipar, maupun wanita lain dan pria lain. 

Jika sebuah rumah tangga sudah dihantui dan didominasi pihak ketiga, biasanya perpisahan bisa terjadi. Maka jagalah agar kendali tetap berada di tangan 2 pihak saja yakni suami dan istri.

Demikianlah beberapa tanda yang perlu diwaspadai oleh pasutri. Semoga bisa menjadi bahan motivasi untuk memperbaiki hubungan. 

Ini Sebabnya Jadi Suami Tak Boleh Malas

Sahabat Majalah Ummi, banyak pria saat ini lebih hobi main game, kongkow bersama teman-temannya, atau nonton TV dan tidur-tiduran di rumah, daripada bekerja giat serta membantu istri mendidik anak-anak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Padahal, seorang suami adalah pemimpin yang kelak Allah minta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya. Tak sepatutnya menjadi suami pemalas.

Berikut ini beberapa alasan mengapa para suami tak boleh memelihara sifat malas:

1. Anda bukan wanita

Anda bukanlah wanita yang bisa masuk surga dengan amat mudah, cukup mengerjakan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, serta mematuhi suaminya, maka bisa masuk surga.

Seorang pria memiliki banyak tanggungan yang harus dipertanggungjawabkan, sungguh bodoh jika waktu hidup di dunia ini malah Anda sia-siakan hanya untuk bermain dan kongkow-kongkow padahal begitu banyak kewajiban yang harus Anda tunaikan terhadap istri, anak, orangtua, dan saudara kandung.

Bisa jadi pahala shalat, puasa, dan seluruh amalan ibadah Anda tidak cukupkah jika dibandingkan dosa-dosa mengabaikan kewajiban orang-orang yang menjadi tanggungan Anda.

Maka, berhentilah bermalas-malasan, Anda adalah teladan bagi istri dan anak-anak sekaligus pemimpin mereka.

2. Kebutuhan Hidup makin meningkat

Alasan selanjutnya mengapa seorang suami tak boleh bermalas-malasan adalah karena setiap harinya kebutuhan hidup makin meningkat. Anak-anak butuh biaya pendidikan, keperluan untuk dapur, biaya listrik, telepon, dan sebagainya pun makin besar. Maka tak ada alasan untuk bermalas-malasan.

3. Pekerjaan rumah tangga dan kewajiban mendidik anak bukanlah hal sederhana

Anda melepas begitu saja masalah pendidikan anak-anak pada istri yang sudah lelah seharian membereskan pekerjaan rumah? Atau, mempercayakan pendidikan anak pada istri yang sudah lelah bekerja seharian membantu Anda menafkahi rumah tangga?

Bukankah pria lebih kuat dari wanita? Namun bagaimana mungkin Anda membiarkan diri sendiri kalah dari istri yang bisa melakukan pekerjaan rumah, sekaligus membantu Anda memenuhi nafkah keluarga, plus mendidik anak-anak?!

Pendidikan anak-anak bukan semata-mata mengajarkan mereka huruf alphabet atau hijaiyah, tapi juga menanamkan karakter dan akhlak terpuji. Dan hal tersebut takkan bisa terwujud jika hanya ibu saja yang berperan.

5 Ciri Suami Tidak Menghargai Istri

“Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi “(HR.Muslim)

Sahabat majalah Ummi, Islam senantiasa mengajarkan umatnya untuk saling menghargai, apalagi bagi pasangan suami istri. Sifat menghargai akan melahirkan kasih sayang dan cinta. Sangat menyiksa jika pasutri tak mampu saling menghargai kelebihan, kekurangan, dan peran masing-masing. Namun faktanya, masih ada yang berbuat seperti itu.

Berikut ini beberapa ciri suami yang tak bisa menghargai istrinya, semoga bisa menjadi bahan introspeksi bersama:

1. Menganggap pekerjaan istri hanya menghabiskan uang saja

Apakah Anda menganggap istri hanyalah penghabis uang semata? Ketahuilah bahwa istri memang berhak atas uang nafkah karena ia senantiasa melayani Anda.

Jika Anda merasa istri terlalu boros, cobalah menasehatinya dengan cara terbaik yang cocok dengan sifatnya. Agar istri menyadari kesalahannya.

Pandangan mengenai istri sebagai penghabis uang semata bisa menghilangkan rasa penghargaan dan kasih sayang pada istri, padahal bisa jadi Anda belum pernah menasehatinya agar tidak berlaku boros.

Ingat, nasehat-menasehati bukanlah perkara satu atau dua hari saja kemudian selesai. Sepanjang hidup, kita punya kewajiba untuk saling menasehati, dalam kebenaran dan KESABARAN. Dengan demikian kita tak termasuk orang yang merugi.

Jika Anda menasehati istri dengan sepenuh hati karena menyayanginya, in syaa Allah nasehat dari hati akan sampai ke hati.

2. Mudah marah dan bermain tangan

Apakah Anda sangat mudah naik darah alias marah-marah pada istri dan cenderung ringan tangan menyakiti fisik istri? Sudah jelas ini adalah ciri laki-laki yang tak mampu menghargai istri sendiri.

Mu’awiyah Al-Qusyairiy bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Ya Rasulullah apakah hak istri terhadap kami? Rasulullah menjawab:

Memberinya makan jika kamu makan, memberinya pakaian jika kamu memakai pakaian, jangan memukul wajah, jangan menghinanya, dan jangan menjauhinya kecuali dalam rumah. [Sunan Abu Daud: Sahih]

3. Mengambil keputusan sendiri tanpa minta pendapat istri

Meskipun suami adalah pemimpin rumah tangga, bukan berarti berhak mengambil segala putusan sendiri, ini artinya Anda sebagai suami tak mempercayai atau menghargai pendapat istri.

Padahal rumah tangga bisa menjadi lebih harmonis jika segala keputusan melalui perbincangan dan kesepakatan antara pasutri.

4. Membiarkan istri makan sehari-hari, membeli pakaian, dan menafkahi hidupnya dengan uang hasil keringat sendiri

Memang benar istri Anda seorang wanita yang mandiri, namun membiarkan istri menafkahi dirinya sendiri tanpa Anda bantu dengan uang nafkah bulanan untuknya sama sekali bukan hal baik, selain tidak menghargai istri perbuatan ini pun bisa menghinakan diri Anda sebagai pemimpin rumah tangga.

5. Membuka aib istri di hadapan teman-teman

Pria sejati pantang mengeluhkan kehidupan pribadi di depan teman-teman, apalagi menjadikan istri sendiri sebagai objek hinaan. Maka jauhilah perkara ini, karena menghina istri sama saja meludah ke atas langit, akan berbalik pada wajah sendiri. Bagaimana pun… Bukankah diri Anda sendirilah yang telah menyetujui untuk menikahinya?

Sahabat Ummi, semoga tulisan ini bermanfaat untuk bahan koreksi diri bagi para suami, juga panduan bagi istri agar mengetahui batasan sejauh mana suami bisa dikatakan telah kehilangan penghargaan terhadap istri.

Jika hanya permasalahan kecil saja, jangan langsung serta-merta menganggap suami tak bisa menghargai istri, namun jika sudah masuk kepada ciri-ciri di atas, sebagai istri perlu bertindak tegas karena laki-laki pun akan menghargai perempuan yang mampu membela dirinya sendiri. Wallaahualam.

Foto freepik