Ngeri, Inilah Akibat Orang yang Berbuat Curang

Sahabat Ummi, jika hanya memakai kacamata dunia, orang yang berbuat curang itu seolah-olah untung besar, dia berhasil mengurangi takaran untuk orang lain, sedangkan untuk dirinya sendiri takarannya dilebihkan.

Padahal tidak demikian, orang-orang yang berbuat curang akan mendapat malapetaka amat mengerikan. Berikut ini 3 di antaranya:

1. Paceklik dan kesusahan

Rasulullah menghadap kami lalu mengatakan, “Hai orang-orang Muhajirin, ada lima perkara yang jika kalian tertimpa dengan itu—dan aku berlindung kepada Allah untuk kalian tertimpa dengan itu— … (lalu beliau mengatakan) dan tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka tertimpa oleh paceklik, kesusahan (dalam memenuhi) kebutuhan dan kejahatan penguasa…” (HR. Ibnu Majah).

Hadits diatas memberitahukan bahaya yang mengancam orang-orang yang berbuat curang selama di dunia, yakni tertimpa oleh paceklik atau gagal panen, kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, serta terkena kezaliman penguasa.

2. Neraka Jahanam

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthaffifin : 1-3)

Dalam ayat Al Muthafifin tersebut ditemukan kata Wayl yang berarti kecelakaan besar, atau bisa juga merujuk pada nama sebuah lembah di Neraka Jahannam.

Sesungguhnya orang kafir dijatuhkan ke dalam lembah Wayl ini selama empat puluh tahun sebelum akhirnya sampai ke dasarnya (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim).  Sedangkan menurut Ibnu Abbas, Wayl adalah sebuah lembah di Neraka Jahanam yang di dalamnya mengalir nanah-nanah para penghuni neraka, lembah tersebut diperuntukkan bagi orang-orang yang berbuat curang. Na’udzubillah min dzalik.

3. Mendapat kebinasaan

Ibnu Katsir berkata, “Allah membinasakan dan menghancurkan kaum Syu’aib dikarenakan mereka berbuat curang dalam takaran dan timbangan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 508). Jika kecurangan telah dilakukan secara masif, oleh banyak orang, atau bahkan suatu kaum… maka bukan tidak mungkjn Allah membinasakan dan menghancurkan kaum tersebut sebagaimana kaum Nabi Syuaib dihancurkan.

Naudzubillah min dzalik. Jauhilah sifat curang dan perilaku curang. Allah melihat segala yang kita perbuat. 

Menjadi Saksi Palsu Dosanya Setara Dengan Syirik dan Membunuh

Astaghfirullah, tahukah Sahabat Ummi bahwa menjadi saksi palsu adalah salah satu dosa besar yang bahkan setara dengan berbuat syirik, durhaka pada orangtua dan membunuh nyawa manusia?

Jangan sampai diri dan keluarga kita bersaksi palsu yang menjadikan kebohongan sebagai fakta dan sebaliknya. Untuk hal apapun, baik itu saksi dari kasus pencurian, perzinaan, bahkan pemilihan umum.

Anas radiyallaahu ‘anhu berkata: “Ketika Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam ditanya tentang dosa-dosa besar, maka jawabnya:  Syirik mempersekutukan Allah, dan durhaka terhadap kedua ayah bunda, membunuh jiwa (manusia), dan saksi palsu.” (Bukhari, Muslim).

Mengapa bersaksi palsu sedemikian buruknya hingga disejajarkan dengan dosa besar lainnya?

Bersaksi palsu berarti telah melakukan fitnah yang amat keji, juga kebohongan yang dampaknya sangat luar biasa. 

Berapa banyak orang yang kehilangan hak-haknya karena kesaksian palsu, berapa banyak pula penganiayaan menimpa orang-orang yang tak berdosa disebabkan kesaksian palsu atau seseorang mendapatkan sesuatu yang bukan haknya atau dinisbatkan kepada nasab yang bukan nasabnya. Semua itu disebabkan oleh kesaksian palsu.

Oleh karena itu sangat pantas apabila sumpah atau kesaksian palsu dimasukkan dalam kategori dosa besar. 

Semoga Allah melindungi kita dari keburukan persaksian palsu.

4 Sifat yang Harus Ada dalam Diri Pemimpin

Sahabat majalah ummi, tiap-tiap kita adalah pemimpin, dan sebagai pemimpin minimal ada 4 sifat yang harus dikuasai. Kalau hanya sekadar pemimpin rumah tangga, tidak masalah kalau tidak semua sifat ini dimiliki. Tapi semakin tinggi level yang dipimpinnya, semestinya makin lengkap 4 sifat ini dimiliki.


Misalnya untuk kriteria pemimpin level negara, tentu saja perlu meliputi 4 sifat ini secara keseluruhan. Apa saja sih sifat yang dimaksud?


1. SHIDDIQ (Benar)
Shiddiq merupakan sifat yang amat tinggi dan mulia.
(1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; 
(2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan; 
(3) ketegasan dan kemantapan hati; 
(4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan

Jika seorang pemimpin tidak jujur, perkataannya tak dapat dipercaya, perbuatannya mengkhianati pernyatannya, tentu saja menjadi kecelakaan besar bagi orang yang dipimpinnya.

2. Amanah (Dapat dipercaya)
Seorang pemimpin haruslah dapat dipercaya dan bisa mengemban kepercayaan tersebut, bukannya malah menyia-nyiakannya. Sifat amanah ini bisa terlihat dari bagaimana ia membuat kebijakan, bagaimana ia mengambil keputusan, apakah menguntungkan pihak yang dipimpinnya atau malah justru merugikan?


 3. Fathanah (Cerdas)
Pemimpin yang tidak cerdas akan mudah dikendalikan oleh pihak lain yang ingin memperdayanya. Oleh sebab itu wawasan luas perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Semakin besar wilayah yang dipimpin, maka pemimpin harus menguasai ilmu-ilmu yang pastinya semakin luas pula.

4. Tabligh (Mampu berkomunikasi)
Mengapa pemimpin harus memiliki sifat tabligh? Karena ia akan berhadapan dengan banyak pihak, jika ia tak memiliki kemampuan komunikasi yang baik, niscaya akan hancurlah martabat dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya.


Demikianlah 4 sifat yang semestinya ada dalam diri setiap pemimpin. Jika kita menyadari bahwa setiap diri kita adalah pemimpin, maka… sudahkah kita memiliki 4 sifat tersebut? (SH)

Foto dari freepik