Ini Dia 4 Cara Cari Uang Tambahan dari Rumah

Siapa bilang Ibu rumah tangga tidak bisa menghasilkan uang? Ibu rumah tangga jaman now bisa menghasilkan uang meski hanya di rumah saja. Sahabat Ummi perlu bukti?

Apa saja sih pekerjaan yang menghasilkan uang meski hanya di rumah saja?

1. Membuka Jasa Les Privat

Sahabat Ummi bisa memanfaatkan ilmu yang Sahabat Ummi punya dengan mengajar les privat. Selain bisa mendapatkan pahala, juga mendapatkan penghasilan tambahan untuk keperluan rumah tangga. Ilmu yang Sahabat Ummi dapatkan juga tidak akan lupa. Mendapat banyak keuntungan bukan?

2. Katering Makanan Rumahan

Keahlian memasak Sahabat Ummi tidak hanya berguna untuk keluarga saja, tapi ini bisa dijadikan peluang usaha rumahan. Terlebih jika memasak memanglah menjadi hobi. Tentunya sangat menyenangkan bukan bila menjalankan hobi sembari menghasilkan uang?

3. Kemampuan menjadi Penata Rias

Salah satu pekerjaan sampingan yang menjadi trend belakangan ini. Yaitu menjadi penata rias untuk berbagai macam acara. Baik itu acara graduation, lamaran, dan lainnya. Kalau ternyata Sahabat Ummi sudah bisa jangan ragu untuk ‘menjajakan’ kemampuanmu ini untuk menghasilkan uang. Tanpa perlu terikat dengan jam kantor, kamu tetap bisa mendapat uang.

4. Reseller

Reseller merupakan peluang usaha dengan modal kecil yang semua orang bisa kerjakan di rumah. Nah, Sahabat Ummi pasti mempunya smartphone bukan? Barang tersbut bisa membuat kita menghasilkan uang. Yaitu dengan cara berjualan secara online. Tidak perlu khawatir mengenai apa yang harus dijual Karena pekerjaan ini hanya menjual produk orang lain dan mendapatkan keuntungan dari penjualan yang sudah ditargetkan untuk mendapatkan komisi.

Itu dia empat pekerjaan yang bisa Sahabat Ummi lakukan dirumah. Selain menambah produktivitas, mengasah skill, juga bisa menambah penghasilan untuk keperluan rumah tangga. Semoga artikel ini bermanfaat ya. (Marthina)

Benarkah Allah Tidak Menerima Sedekah dari Harta Haram?

Menyedekahkan sebagian hartanya adalah sebuah perbuatan baik. Terlebih di bulan Ramadhan ini. Semua berlomba-lomba bersedekah untuk menabur benih kebaikan. Namun bagaimana jika harta yang disedekahkan adalah harta haram? Apakah harta akan menjadi halal? Jawabannya adalah tentu tidak. Hal tersebut diharamkan apapun alasannya.

Meskipun niat tulus untuk membantu, tapi Allah tidak menerima sedekah jika berasal dari yang haram, karena Dia hanyalah menerima yang thoyyib yaitu baik dan halal.

Mungkin kita pernah menyaksikan sendiri pencuri yang berhasil mencuri uang dan uang tersebut disedekahkan, atau uang koruptor yang dipakai untuk bersedekah untuk meringankan bebannya.

Kita melihat hal tersebut dari luar tampak hebat bagai pahlawan. Karena membantu oranag lain yang dalam kesusahan. Namun, hal ini tidak diperbolehkan dalam Islam. Allah SWT tidak menerima sedekah tersebut. Sedekah ibarat air yang dapat membersihkan harta. Namun sedekah dengan harta haram, layaknya urine, yang bukan membersihkan, justru membuat harta semakin kotor. 

Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wassalaam bersabda yang artinya : “Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)” (HR. Muslim no. 224). 

Hal ini juga dijelas dalam Hadist Riwayat Muslim berikut ini yang artinya, 
“Hai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik dan tak hendak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang beriman apa yang diperintahkan kepada para Rasul, maka firman-Nya, ‘Hai para Rasul, makanlah dari hasil yang baik dan beramal sholehlah! Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang engkau lakukan!’ Dan firman-Nya lagi, ‘Hai orang-orang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami karuniakan kepadamu!’ Lalu disebutkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang seorang laki-laki yang lama berkelana, dengan rambutnya yang kusut kusam dan pakaian yang berdebu, menadahkan tangannya ke langit, seraya berkata ‘Ya Tuhanku, ya Tuhanku! Padahal makanannya haram, pakaiannya haram, minumannya haram, dan dibesarkan dengan yang haram, maka bagaimana doanya dapat dikabulkan Tuhan.” (HR. Muslim) , Naudzubillahiminzalik.

Semoga kita senantiasa memberikan makan dari penghasilan halal untuk keluarga, dan menyedekahkan harta yang halal pula. Aamiin. (Marthina)

Inilah 5 Keutamaan Shalat Sunah

Shalat sunnah merupakan amalan yang harus rutin kita laksanakan dan kita jaga. Salah satu keutamaannya yaitu dapat menutupi kekurang shalat fardhu kita. Sebagaimana kita tahu, bahwa tidak ada yang yakin shalat fardhu yang kita lakukan bisa serratus persen sempurna. Maka, dengan shalat sunah, dapat menutupi kekurangan tersebut.

Nah, apakah keutaman lain shalat Sunnah?

Pertama, Shalat Sunnah dapat menutupi kekurangan Shalat fardhu. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” (HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426 dan Ahmad 2: 425. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kedua, Dihapuskan dosa dan ditinggikan derajatnya. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat). Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu.”  (HR. Muslim, No. 488)

Ketiga, Akan dekat dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

“Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)‘” (HR. Muslim, no. 489).

Keempat, Shalat adalah sebaik-baiknya amalan. Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Beristiqamahlah kalian dan sekali-kali kalian tidak dapat istiqomah dengan sempurna. Ketahuilah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat. Tidak ada yang menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.” (HR. Ibnu Majah no. 277 dan Ahmad 5: 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kelima, Shalat Sunnah akan menghasilkan keberkahan. Dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika salah seorang di antara kalian telah menunaikan shalat di masjidnya, maka hendaklah ia memberi jatah shalat bagi rumahnya. Karena sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan dalam rumahnya melalui shalatnya.” (HR. Muslim)

Demikianlah, semoga memotivasi untuk memperbanyak shalat sunah. (Marthina)

Zakat Tabungan dan Deposito, Begini Cara Mengitungnya

Sahabat Ummi, seorang muslim yang mampu secara ekonomi, maka wajib melakukan zakat. Hukum zakat adalah wajib bila mampu secara finansial dan telah mencapai batas minimal bayar zakat atau nishab. Adapun syaratnya untuk seseorang yang wajib mengeluarkan zakat yaitu;

1.     Islam

2.     Merdeka

3.     Berakal dan Baligh

4.     Hartanya Memenuhi Nisab

Dan syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut:

  1. Harta yang akan dizakati di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang digunakan untuk mata pencaharian.
  2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama 1 tahun (haul) terhitung dari hari kepemilikan nishab. Kecuali zakat pertanian dan buah-buahan yang diambil ketika panen, serta zakat harta karun yang diambil ketika menemukannya. Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau sempurna lagi nishab tersebut, maka dimulai lagi perhitungannya.

Misalnya: nishab tercapai pada bulan Muharram, lalu bulan Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari nishabnya, maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada bulan Ramadhan tahun itu, hartanya bertambah hingga mencapai nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari bulan Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai 1 tahun sempurna, lalu dikeluarkannya zakatnya.

Bagaimana perhitungan Zakat Tabungan Deposito?

Pertama: Deposito di Bank Konvensional. Untuk deposito jenis ini, zakat hanya terkena pada uang pokoknya saja. Sedangkan bunga dari deposito itu, baik diambil atau tidak, tidak terkena zakat. Nilai zakatnya adalah: 2,5 persen dari pokok.

Kedua: Deposito di Bank Syariah. Untuk deposito jenis ini, sistem zakatnya berdasarkan pada saldo akhir atau memasukkan bagi hasil yang diterima yang masih ada hingga akhir tahun.

Deposito Bank Konvensional

  • Modal: Rp100 juta.
  • Bunga tidak dihitung zakat
  • Zakatnya adalah 2,5 persen xRp100juta : Rp2.500.000

Deposito Bank Syariah

  • Modal : Rp100 juta.
  • Bagi Hasil: Rp10 juta.
  • Zakatnya adalah: 2,5 persen x Rp110 juta = Rp2.750.000

Sedangkan terkait dengan waktu pembayaran zakat atas deposito yang dimiliki adalah: dilakukan setelah genap satu tahun dari masa mencapai nishab 85 gram emas. Terkait dengan pencapaian nishab sendiri, apabila memiliki harta lain seperti : emas, perak, tabungan, barang perniagaan dan sejenisnya, maka semua dihitung secara keseluruhan dan tidak terpisah. Apabila akumulasi semuanya sudah mencapai 85 gram emas dan genap satu tahun dari masa itu maka dikeluarkan zakatnya 2,5 persen. Untuk masa berikutnya, zakat dikeluarkan setiap tahun. Jadi, tidak setiap cair atau menunggu cair. Apabila telah genap satu tahun maka dikeluarkan zakatnya. Wallaahualam. (Marthina)

Orang Seperti Ini Akan Mendapat Rezeki Tak Terduga dan Solusi dari Setiap Masalah

Manusia memiliki sifat alami untuk bekerja keras demi mendapatkan rezeki. Terlebih lagi jika sudah memiliki keluarga dan bertanggung jawab sebagai kepala keluarga akan bekerja keras untuk menafkahinya. Dan bagi mereka yang telah bekerja keras, maka niscaya rezeki dari Allah SWT akan selalu ada.

Ada beberapa golongan yang dijamin rezekinya oleh Allah SWT.  Salah satunya adalah orang yang bekerja keras, karena Allah SWT sangat menyukai orang yang bekerja keras. Hal tersebut terdapat di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah tentang siapa saja yang masuk ke dalam golongan yang dijamin mendapatkan rezeki dari Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, Dia memberimu rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Mereka berangkat pagi-pagi dengan perut lapar, dan pulang pada sore hari dengan perut kenyang.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits di atas, menunjukkan bahwa jaminan rezeki tersebut terkait dengan tingkat tawakal kita di hadapan Allah SWT terhadap pekerjaan yang kita lakukan. Hal ini bukan diartikan bahwa untuk mendapatkan rezeki tersebut kita tidak melakukan apapun.

Adapun orang yang bertawakal kepada Allah SWT yaitu orang-orang yang melakukan usaha dengan optimal dan disaat yang bersamaan juga berddoa dan berpasrah atas segala usahanya.

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan memberikannya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 2-3)

Allah SWT berjanji akan mencukupkan rezeki kepada hambanya yang bertawakal kepada-Nya. Maka, tugas kita sebagai hamba-Nya adalah bertawakal kepada Allah SWT dengan maksimal. Percayalah, bahwa Allah SWT tidak pernah mengingkari janji-Nya. (Marthina)